PEMILU 2014, Mari Berdemokrasi dengan Baik!

by Rosa Nur , at 11:35 AM , have 2 comments
Pemilu legislatif kurang beberapa hari lagi, sudahkah Anda menentukan siapa pemimpin pilihan Anda? Sudah pada tahu ada berapa partai yang maju dalam pemilu 2014 ini? Tepat tanggal berapakah pemilu legislatif dilaksanakan? Kalau Anda jawab, “entah” atau mungkin “enggak penting” ya udah lah wassalam x_x Eh tapi tetep dilanjutkan bacanya yaa :v

Nah kali ini saya akan menuliskan uneg-uneg saya mengenai pemilu. Mungkin Anda yang umurnya jauh lebih tua dari saya akan mengatakan saya itu sok-sok an. Terserahlah. Yang jelas saya hanya mau uneg-uneg saya ini tersampaikan :p

Baik, umur saya memang masih bego banget untuk ngebicarain mengenai pemilu. Ya iyalah, kan baru saja 17 tahun lebih 1 bulan berapa hari gitu :D Tetapi tidak masalah bukan jika saya menyuarakan pendapat saya. Seperti yang tercantum pada UUD 1945 pasal 28E ayat 3 yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Ohya perlu dicamkan, saya menulis ini karena ya dalam hati ini ingin meluruskan paradigma-paradigma masyarakat yang buat saya risih setiap kali mendengarkannya.

Mengenai pemilu, bisa dibuka UUD 1945 Bab VIIB Pemilihan Umum Pasal 22E. Yang isinya berikut ini:
1. Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali.
2. Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
3. Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik.
4. Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah perseorangan.

Pemilu legislatif pada tahun 2014 ini diikuti oleh 15 partai politik.

Sumber: haryono-id.blogspot.com

Dan pada Pemilu Legislatif 2014 ini dilaksanakan pada Rabu Pon, tanggal 9 April 2014.

Ketika kita membicarakan pemilu legislatif maka topik yang paling umum tidak jauh dari “golput” dan “caleg”. Maka dari itu saya akan membahas tentang golput dan caleg.  Sebelumnya saya minta maaf sekali jika postingan ini mungkin tidak berkenan bagi para pembaca. Disini saya hanya ingin menerapkan budaya politik partisipan.

Baik, pertama-tama kupas tuntas dulu mengenai pokok bahasan caleg.
Risih sih kadang kalau denger pernyataan  orang-orang nggak jelas. Apalagi pernyataan seperti ini,”Hampir semua orang nyaleg karena alasan untuk mendapatkan uang, kekuasaan, status sosial, dan fasilitas yang menggiurkan. Kebanyakan yang mencalonkan diri itu orang pengangguran, dan kadang rela berhutang dan menjual hartanya untuk mendapatkan kursi, tetapi apabila mereka gagal, mereka akan stress karena kebanyakan hutang. Dan yang beruntung, caleg yang jadi, bisa jadi kaya mendadak lho!.”

Serius bagi saya pernyataan itu omongan orang tidak berpendidikan yang mungkin sebenarnya cerminan dirinya sendiri!!

Saya cuma mau meluruskan ya. Memang yang kita jumpai seperti itu, tetapi tak selamanya dan tak semuanya seperti itu. Positive thinking hey! Kalau Anda mengatakan bisa jadi kaya memangnya sebelumnya bagaimana? Anda selama ini mengamati dari luar saja bukan? Apakah Anda tahu sebelum jadi anggota legislatif dia sebenarnya punya aset yang sangat besar namun dirahasiakan? Dan setelah ia jadi anggota legislatif ia baru membeberkannya. Apakah Anda tahu itu? Tidak bukan!

Jiah, ini nih yang tidak saya suka dari kita para manusia yang bisanya cuma menuduh-nuduh tanpa diselidiki terlebih dahulu karena tuduhan itu dilakukan karena rasa iri yang tak mampu menyaingi atau menyamai seperti dia (para caleg/kandidat) yang dibencinya. Apalagi terkadang media massa suka memberitakan berita yang kadang dilebihkan, belum tentu benar kebenarannya eh sudah dipublikasikan. Selama ini pula kita lebih banyak mendengarkan berita negatif bukan dari media massa?  Saya sih kecewa saja, ketika seorang pejabat berjuang demi rakyat, berbuat kebaikan apa ada yang meng-expose-nya? Kecuali jika seorang pejabat itu setelah berjuang demi rakyat dan tersandung sebuah masalah maka akan dipublikasikan di media massa. Tetapi coba lihat, ketika ada satu sedikit masalah kecil, noh berita sudah menyebar dan wuiiihh kayak ibu-ibu arisan deh -_-

Saran saja ya, bagi Anda-Anda yang merasa diri Anda jauh lebih baik dari mereka yang ‘nyaleg’ ataupun sudah jadi anggota legislatif, calonin saja diri Anda! Simple kan! Daripada Anda cuma komentar saja, mending langsung saja nyaleg! Nggak mau? Ya udah diam saja. Pilih saja anggota legislatif yang menurut Anda baik. Dan ingat jangan terpengaruh dengan obral janji caleg dengan membawa uang yang menggiurkan! Kalau Anda terpengaruh ya salah sendiri :p

Anda mungkin tidak tahu bukan betapa susahnya pula para caleg yang sedang bersosialisasi, yang kadang setiap hari rumahnya didatangi para tamu yang kadang tamu tersebut hanya bertujuan untuk menipu para caleg? Jika Anda menjawab itu sebuah resiko, oke benar. Tetapi dengan Anda tahu betapa susahnya perjuangan para caleg, setidaknya Anda bisa menghargai mereka. Jangan bisanya hanya mencela!

Perlu dicamkan, ayo dukung mereka para caleg! Berikan saran-saran jika menurut Anda tidak berkenan atau mungkin ketika menemukan kejanggalan segara cari alternatif caleg lain. Kontestan dalam pemilu 2014 ini kan ada 15 partai politik dan satu partai politik diwakili maksimal 10 orang. Jadi banyak pilihan yang tersedia bukan? ;)
Ohya mereka para caleg itu juga manusia, tidak mungkin mereka seputih salju (sempurna), jika Anda menuntut kesempurnaan mereka sampai kapanpun ya tidak bisa.

Baik mungkin cukup disini ya mengenai pokok bahasan caleg. Sekarang mengenai pokok bahasan golput.

Golput? Iya golput!  Golput atau golongan putih yang dalam bahasa Inggrisnya adalah Abstain adalah tindakan untuk tidak memilih dengan tidak menggunakan suaranya dalam pemilihan umum. Seseorang yang melakukan golput dikontraskan dengan "memberikan suara kosong" dimana seseorang yang golput memberikan suara yang tidak valid / tidak sesuai dengan cara dengan sengaja menandai item yang salah atau tiidak mengisinya sama sekali.  Sebagian masyarakat kadang bangga dengan perbuatan golputnya itu yang sebenarnya sangat merugikan bagi dirinya sendiri dan pemerintah. Kok bisa? Ya iyalah, pikir saja sendiri. :p hehe, peace :Dv

Berikut alasan orang-orang memilih golput yang saya tahu:
1. Sibuk bekerja.
2. Tidak ada yang sesuai dengan pilihan mereka.
3. Kesalahan administratif, kesalahan teknis yang tidak disengaja dalam pencatatan daftar pemilih tetap.
4. Sikap apatis dan tidak peduli.

Dari keempat alasan tersebut kecuali no.3, sebenarnya intinya sama, yaitu menunjukkan bangsa Indonesia belum sepenuhnya memiliki budaya politik partisipan.  Budaya politik partisipan adalah budaya politik yang aktif dan sangat mendorong proses sistem politik ke arah demokrasi.

Berikut ini adalah identifikasi dari orang golput:
Mereka yang golput itu kebanyakan orang-orang yang pesimis. Mengapa? Karena mereka menganggap mencoblos atau tidak mencoblos ya sama saja. Tetap tidak ada perubahan bagi negara kita ini. Tidak menghasilkan pemimpin yang berkualitas, dll.

Mereka yang golput ada yang bangga sekali karena merasa bisa menggagalkan para koruptor. Hei sadar bung! Meskipun Anda tidak mencoblos, tetap ada yang naik ambil kursi. Sedangkan jika Anda mencoblos especially setelah berdoa setidaknya Anda sudah memberi faith kepada mereka (para kandidat) dan memberi amanah sekaligus memberi mandat kepada mereka untuk berada di garis terdepan Indonesia dan memimpin Indonesia. Sambil kita berdoa agar mereka diberikan kesadaran, kearifan, dan tanggungjawab untuk menjalankan semua itu.


Mereka yang golput itu (mayoritas) pengecut. Kok bisa? Ya iyalah. Kan mereka tidak bisa menentukan pilihannya padahal kan banyak sekali kandidat yang tersedia. Jadi sama halnya dengan pengecut bukan? Jika mereka tidak pengecut dan mau golput harusnya langsung ngomong ke KPU agar kertas dan tinta tidak mubadzir. Berani tidak? Dan mereka jika ditanya,“Tadi coblos nggak? Coblos apa?”. Dijawablah,” Kepo amat sih, rahasia dong.” :v

Mereka yang golput itu sok merasa perfect. Katanya, semua partai politik dan semua kandidat tidak ada yang bersih sekalipun. Ya iyalah mereka itu kan manusia. Sampai kapanpun dunia tidak ada yang sempurna, teknologi misal komputer saja juga tidak sempurna. Buktinya dari masa ke masa selalu ada revolusi.

Mereka yang golput itu sebenarnya merugikan dirinya sendiri.  Nah ini yang mau saya bahas diatas tadi :p
Mereka yang golput itu berhubung tidak bisa menentukan pilihannya, biasanya mereka sok-sokan berkoar-koar mengomentari kebijakan pemerintah. Katakanlah yang golput 75% maka pemilihan yang diikuti oleh 25% pemilih itu tetap sah. Dan apabila yang dihasilkan dari pemilih yang 25% itu berkhianat, maka yang golput juga akan terkena dampaknya. Andai saja jika mereka diculik dan ditahan, mereka ditanya oleh para penjahat. “Mau saya bunuh dengan disilet-silet apa disodom besi panas?”  Karena mereka terdiam ya akhirnya mereka dibunuh dengan disilet-silet sambil disodom besi panas :v

Ohya, lalu mengapa mereka-mereka (orang golput) bisa merugikan pemerintah? Karena pemilu sebagai bagian dari demokrasi yang adalah cita-cita bangsa Indonesia. Perjuangan bangsa kita terhadap demokrasi dimulai sejak jatuhnya rezim Orde Baru (1998) dan masih berlanjut sampai sekarang. Pemilu adalah syarat utama demokrasi.  Jadi jika golput sama saja dengan tidak setuju dengan penyelenggaraan pemilu.

Selain itu, pemilu juga diatur dalam Undang-Undang. Jadi setiap orang yang tidak bisa ikut dalam pesta demokrasi ini telah menyepelekan sekaligus menghina Undang-Undang. Dan perlu Anda ketahui, pelaksanaan pemilu itu sangat mahal. Membutuhkan biaya yang besar, bisa sampai puluhan triliunan. Jadi sayang jika pemilu diabaikan.

Tambahan : Ada beberapa orang yang tidak bertanggungjawab yang menggunakan suara golput tersebut untuk mengisi kekosongan dengan cara mengisi suaranya dengan mencoblos nama calon kandidat.

Saran sih, bijaksanalah dalam menentukan pilihan. Dan perlu diingat, siapa sih nggak risih atau bosan dengan  pemerintah? Saya yakin semuanya risih dan bosan. Kecuali mereka yang korupsi atau pula mereka yang berjuang keras demi rakyatnya. Bedanya antara mereka yang bosan, mereka yang korupsi, dan mereka yang berjuang keras demi rakyatnya adalah:
1.Yang masih tetap berusaha dan berharap.
2.Yang pesimis dan bisanya cuma mengomentari pemerintah dan mengeluh.

Terakhir, ayo ciptakan budaya politik partisipan di Indonesia! Jadilah warga negara yang baik! 
Anda sedang membaca artikel tentang PEMILU 2014, Mari Berdemokrasi dengan Baik!, Anda boleh menyebar luaskan atau mengcopy - paste artikel di atas jika memang sangat bermanfaat bagi anda.. Dengan syarat anda harus meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya..


PEMILU 2014, Mari Berdemokrasi dengan Baik!
PEMILU 2014, Mari Berdemokrasi dengan Baik! - written by Rosa Nur , published at 11:35 AM, categorized as Coretanku , Pengetahuan Umum , Politik . And have 2 comments
2 comments Add a comment
Beh artikel'e dowoo.... aku gung iso milih mbak jadi cuma iso nonton pemilu tok aku...
http://baronta7.blogspot.com/2014/04/investmandiri-com-bisnis-investasi-murah.html
Njaluk bantuan +1 mbak ben iso page one
Reply Delete
Cancel Reply
GetID
Copyright ©2013 Apa saja! :D by
Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger