Pemilu legislatif kurang beberapa hari lagi, sudahkah Anda menentukan
siapa pemimpin pilihan Anda? Sudah pada tahu ada berapa partai yang maju dalam
pemilu 2014 ini? Tepat tanggal berapakah pemilu legislatif dilaksanakan? Kalau
Anda jawab, “entah” atau mungkin “enggak penting” ya udah lah wassalam x_x Eh
tapi tetep dilanjutkan bacanya yaa :v
Nah kali ini saya akan menuliskan uneg-uneg saya mengenai pemilu.
Mungkin Anda yang umurnya jauh lebih tua dari saya akan mengatakan saya itu
sok-sok an. Terserahlah. Yang jelas saya hanya mau uneg-uneg saya ini
tersampaikan :p
Baik, umur saya memang masih bego
banget untuk ngebicarain mengenai pemilu. Ya iyalah, kan baru saja 17 tahun
lebih 1 bulan berapa hari gitu :D Tetapi tidak masalah bukan jika saya
menyuarakan pendapat saya. Seperti yang tercantum pada UUD 1945 pasal 28E ayat 3
yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan
mengeluarkan pendapat”. Ohya perlu dicamkan, saya menulis ini karena ya dalam
hati ini ingin meluruskan paradigma-paradigma masyarakat yang buat saya risih
setiap kali mendengarkannya.
Mengenai pemilu, bisa dibuka UUD 1945 Bab VIIB Pemilihan Umum Pasal 22E.
Yang isinya berikut ini:
1. Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia,
jujur, dan adil setiap lima tahun sekali.
2. Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.
3. Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan rakyat
dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik.
4. Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah
adalah perseorangan.
Pemilu legislatif pada tahun 2014 ini diikuti oleh 15 partai politik.
![]() |
| Sumber: haryono-id.blogspot.com |
Dan pada Pemilu Legislatif 2014 ini dilaksanakan pada Rabu Pon, tanggal 9 April
2014.
Ketika kita membicarakan pemilu legislatif maka topik yang paling umum
tidak jauh dari “golput” dan “caleg”. Maka dari itu saya akan membahas tentang
golput dan caleg. Sebelumnya saya minta
maaf sekali jika postingan ini mungkin tidak berkenan bagi para pembaca. Disini
saya hanya ingin menerapkan budaya politik partisipan.
Baik, pertama-tama kupas tuntas dulu mengenai pokok bahasan caleg.
Risih sih kadang kalau denger pernyataan orang-orang nggak jelas. Apalagi pernyataan
seperti ini,”Hampir semua orang nyaleg karena alasan untuk mendapatkan uang,
kekuasaan, status sosial, dan fasilitas yang menggiurkan. Kebanyakan yang
mencalonkan diri itu orang pengangguran, dan kadang rela berhutang dan menjual
hartanya untuk mendapatkan kursi, tetapi apabila mereka gagal, mereka akan
stress karena kebanyakan hutang. Dan yang beruntung, caleg yang jadi, bisa jadi
kaya mendadak lho!.”
Serius bagi saya pernyataan itu omongan orang tidak berpendidikan yang
mungkin sebenarnya cerminan dirinya sendiri!!
Saya cuma mau meluruskan ya. Memang yang kita jumpai seperti itu, tetapi
tak selamanya dan tak semuanya seperti itu. Positive
thinking hey! Kalau Anda mengatakan bisa jadi kaya memangnya sebelumnya
bagaimana? Anda selama ini mengamati dari luar saja bukan? Apakah Anda tahu
sebelum jadi anggota legislatif dia sebenarnya punya aset yang sangat besar
namun dirahasiakan? Dan setelah ia jadi anggota legislatif ia baru
membeberkannya. Apakah Anda tahu itu? Tidak bukan!
Jiah, ini nih yang tidak saya suka dari kita para manusia yang bisanya
cuma menuduh-nuduh tanpa diselidiki terlebih dahulu karena tuduhan itu
dilakukan karena rasa iri yang tak mampu menyaingi atau menyamai seperti dia
(para caleg/kandidat) yang dibencinya. Apalagi terkadang media massa suka
memberitakan berita yang kadang dilebihkan, belum tentu benar kebenarannya eh sudah
dipublikasikan. Selama ini pula kita lebih banyak mendengarkan berita negatif
bukan dari media massa? Saya sih kecewa
saja, ketika seorang pejabat berjuang demi rakyat, berbuat kebaikan apa ada
yang meng-expose-nya? Kecuali jika seorang pejabat itu setelah berjuang demi
rakyat dan tersandung sebuah masalah maka akan dipublikasikan di media massa.
Tetapi coba lihat, ketika ada satu sedikit masalah kecil, noh berita sudah
menyebar dan wuiiihh kayak ibu-ibu arisan deh -_-
Saran saja ya, bagi Anda-Anda yang merasa diri Anda jauh lebih baik dari
mereka yang ‘nyaleg’ ataupun sudah jadi anggota legislatif, calonin saja diri
Anda! Simple kan! Daripada Anda cuma komentar saja, mending langsung saja
nyaleg! Nggak mau? Ya udah diam saja. Pilih saja anggota legislatif yang
menurut Anda baik. Dan ingat jangan terpengaruh dengan obral janji caleg dengan
membawa uang yang menggiurkan! Kalau Anda terpengaruh ya salah sendiri :p
Anda mungkin tidak tahu bukan betapa susahnya pula para caleg yang
sedang bersosialisasi, yang kadang setiap hari rumahnya didatangi para tamu
yang kadang tamu tersebut hanya bertujuan untuk menipu para caleg? Jika Anda
menjawab itu sebuah resiko, oke benar. Tetapi dengan Anda tahu betapa susahnya
perjuangan para caleg, setidaknya Anda bisa menghargai mereka. Jangan bisanya
hanya mencela!
Perlu dicamkan, ayo dukung mereka para caleg! Berikan saran-saran jika
menurut Anda tidak berkenan atau mungkin ketika menemukan kejanggalan segara
cari alternatif caleg lain. Kontestan dalam pemilu 2014 ini kan ada 15 partai
politik dan satu partai politik diwakili maksimal 10 orang. Jadi banyak pilihan
yang tersedia bukan? ;)
Ohya mereka para caleg itu juga manusia, tidak mungkin mereka seputih
salju (sempurna), jika Anda menuntut kesempurnaan mereka sampai kapanpun ya
tidak bisa.
Baik mungkin cukup disini ya mengenai pokok bahasan caleg. Sekarang
mengenai pokok bahasan golput.
Golput? Iya golput! Golput atau golongan putih yang
dalam bahasa Inggrisnya adalah Abstain adalah tindakan untuk tidak memilih
dengan tidak menggunakan suaranya dalam pemilihan umum. Seseorang yang
melakukan golput dikontraskan dengan "memberikan suara kosong" dimana
seseorang yang golput memberikan suara yang tidak valid / tidak sesuai dengan
cara dengan sengaja menandai item yang salah atau tiidak mengisinya sama
sekali. Sebagian
masyarakat kadang bangga dengan perbuatan golputnya itu yang sebenarnya sangat
merugikan bagi dirinya sendiri dan pemerintah. Kok bisa? Ya iyalah, pikir saja
sendiri. :p hehe, peace :Dv
Berikut alasan orang-orang memilih golput yang saya tahu:
1. Sibuk bekerja.
2. Tidak ada yang sesuai dengan pilihan mereka.
3. Kesalahan administratif, kesalahan teknis yang tidak disengaja dalam
pencatatan daftar pemilih tetap.
4. Sikap apatis dan tidak peduli.
Dari keempat alasan tersebut kecuali no.3, sebenarnya intinya sama, yaitu
menunjukkan bangsa Indonesia belum sepenuhnya memiliki budaya politik
partisipan. Budaya politik partisipan
adalah budaya politik yang aktif dan sangat mendorong proses sistem politik ke
arah demokrasi.
Berikut ini adalah identifikasi dari orang golput:
Mereka yang golput itu kebanyakan orang-orang yang pesimis. Mengapa?
Karena mereka menganggap mencoblos atau tidak mencoblos ya sama saja. Tetap
tidak ada perubahan bagi negara kita ini. Tidak menghasilkan pemimpin yang
berkualitas, dll.
Mereka yang golput ada yang bangga sekali karena merasa bisa
menggagalkan para koruptor. Hei sadar bung! Meskipun Anda tidak mencoblos, tetap
ada yang naik ambil kursi. Sedangkan jika Anda mencoblos especially setelah
berdoa setidaknya Anda sudah memberi faith kepada mereka (para kandidat) dan
memberi amanah sekaligus memberi mandat kepada mereka untuk berada di garis
terdepan Indonesia dan memimpin Indonesia. Sambil kita berdoa agar mereka
diberikan kesadaran, kearifan, dan tanggungjawab untuk menjalankan semua itu.
Mereka yang golput itu (mayoritas) pengecut. Kok bisa? Ya iyalah. Kan
mereka tidak bisa menentukan pilihannya padahal kan banyak sekali kandidat yang
tersedia. Jadi sama halnya dengan pengecut bukan? Jika mereka tidak pengecut dan
mau golput harusnya langsung ngomong ke KPU agar kertas dan tinta tidak
mubadzir. Berani tidak? Dan mereka jika ditanya,“Tadi coblos nggak? Coblos apa?”.
Dijawablah,” Kepo amat sih, rahasia dong.” :v
Mereka yang golput itu sok merasa perfect. Katanya, semua partai politik
dan semua kandidat tidak ada yang bersih sekalipun. Ya iyalah mereka itu kan
manusia. Sampai kapanpun dunia tidak ada yang sempurna, teknologi misal komputer
saja juga tidak sempurna. Buktinya dari masa ke masa selalu ada revolusi.
Mereka yang golput itu sebenarnya merugikan dirinya sendiri. Nah ini yang mau saya bahas diatas tadi :p
Mereka yang golput itu berhubung tidak bisa menentukan pilihannya,
biasanya mereka sok-sokan berkoar-koar mengomentari kebijakan pemerintah. Katakanlah
yang golput 75% maka pemilihan yang diikuti oleh 25% pemilih itu tetap sah. Dan
apabila yang dihasilkan dari pemilih yang 25% itu berkhianat, maka yang golput
juga akan terkena dampaknya. Andai saja jika mereka diculik dan ditahan, mereka
ditanya oleh para penjahat. “Mau saya bunuh dengan disilet-silet apa disodom
besi panas?” Karena mereka terdiam ya
akhirnya mereka dibunuh dengan disilet-silet sambil disodom besi panas :v
Ohya, lalu mengapa mereka-mereka (orang golput) bisa merugikan
pemerintah? Karena pemilu sebagai bagian dari demokrasi yang adalah cita-cita
bangsa Indonesia. Perjuangan bangsa kita terhadap demokrasi dimulai sejak
jatuhnya rezim Orde Baru (1998) dan masih berlanjut sampai sekarang. Pemilu
adalah syarat utama demokrasi. Jadi jika
golput sama saja dengan tidak setuju dengan penyelenggaraan pemilu.
Selain itu, pemilu juga diatur dalam Undang-Undang. Jadi setiap orang
yang tidak bisa ikut dalam pesta demokrasi ini telah menyepelekan sekaligus
menghina Undang-Undang. Dan perlu Anda ketahui, pelaksanaan pemilu itu sangat
mahal. Membutuhkan biaya yang besar, bisa sampai puluhan triliunan. Jadi sayang
jika pemilu diabaikan.
Tambahan : Ada beberapa orang yang tidak bertanggungjawab yang
menggunakan suara golput tersebut untuk mengisi kekosongan dengan cara mengisi
suaranya dengan mencoblos nama calon kandidat.
Saran sih, bijaksanalah dalam menentukan pilihan. Dan perlu diingat,
siapa sih nggak risih atau bosan dengan pemerintah? Saya yakin semuanya risih dan
bosan. Kecuali mereka yang korupsi atau pula mereka yang berjuang keras demi
rakyatnya. Bedanya antara mereka yang bosan, mereka yang korupsi, dan mereka
yang berjuang keras demi rakyatnya adalah:
1.Yang masih tetap berusaha dan berharap.
2.Yang pesimis dan bisanya cuma mengomentari pemerintah dan mengeluh.
Terakhir, ayo ciptakan budaya politik partisipan di Indonesia! Jadilah
warga negara yang baik!
Anda sedang membaca artikel tentang PEMILU 2014, Mari Berdemokrasi dengan Baik!, Anda boleh menyebar luaskan atau mengcopy - paste artikel di atas jika memang sangat bermanfaat bagi anda.. Dengan syarat anda harus meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya..




http://baronta7.blogspot.com/2014/04/investmandiri-com-bisnis-investasi-murah.html
Njaluk bantuan +1 mbak ben iso page one